‘’Beban Berat Untuk Kami ..’’

Ditulis oleh : Administrator | Kamis, 26 Oktober 2017

Foto kiri-kanan : Kepala Diskominfo DIY, Kepala BPKP Prov.DIY, Ketua Pengadilan Tinggi Yogyakarta, Wakil Ketua DPRD DIY, Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Pakualam X, Ketua Komisi A, Kepala Dinas PU Kab. Sleman, Camat Ngemplak, Direktur Bank Sleman, Ketua KID DIY.


PACUAN untuk meraih status terbaik melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Keterbukaan Informasi Publik 2017 garapan KID DIY akhirnya finish di Gedhong Pracimosono, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (25/10).   Melalui acara bertajuk Anugerah Keterbukaan Badan Publik 2017, penghargaan kepada Badan Publik se-DIY diserahkan oleh Wagub DIY KGPAA Paku Alam X, Wakil Ketua DPRD DIY Arif Noor Hartanto, komisioner KI Pusat Henny S Widyaningsih dan Ketua BP2KI Yogyakarta Eka Handayani didampingi Ketua KID DIY Hazwan Iskandar Jaya.

Dalam sambutan tertulis Gubernur DIY yang dibacakan Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X disampaikan bahwa keterbukaan informasi diharapkan dapat menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar lebih baik dan lebih demokratis.  ‘’Tetapi masyarakat juga harus memahami bahwa keterbukaan bukan berarti sebebas-bebasnya, keterbukaan harus berjalan sesuai dengan koridor penghormatan terhadap hak asasi manusia dan menjamin adanya rahasia negara,’’ katanya.

Untuk kategori OPD Pemda DIY, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) keluar sebagai Terbaik I diikuti Badan Diklat dan BKD (selengkapnya lihat tabel).   Sedangkan secara umum Monev tahun ini didominasi Sleman.  Selain menempatkan OPD-nya di urutan 1, 2 dan 3 kategori OPD kabupaten/kota, juga menguasai pada ketegori kecamatan melalui Ngemplak, Depok dan Godean.  Kategori BUMD Terbaik, juga lagi-lagi diraih Sleman.

Rakhmat, perwakilan dari Kecamatan Ngemplak yang menerima plakat dan piagam dari Wagub mengaku gembira.  ‘’Gembira iya, tetapi ini juga menjadi beban berat untuk kami,’’ akunya blak-blakan.

Beban yang dimaksud Rakhmat adalah beban untuk mempertahankan dan membuktikan bahwa Ngemplak memang baik implementasi keterbukaan informasi publiknya.  Hal senada diutarakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUP-KP) Sleman R Sapto Winarno ketika memberikan testimoni dipandu komedian Gareng Rakasiwi.  ‘’Gembira Mas, tapi harus siap jadi tempat studi banding daerah lain,’’ katanya.

Dominasi Sleman

Acara penganugerahan juga dihadiri komisioner KI Pusat Henny S Widyaningsih meski agak terlambat karena pesawat dari Jakarta mengalami delay.  Selain memberikan sambutan, Henny yang merupakan komisioner KI Pusat selama 2 periode, berkesempatan menyerahkan piala dan piagam kepada para juara III semua kategori.

‘’Saya berbahagia, dan bangga. Bahagia karena bisa berada di Jogja yang istimewa. Bangga karena KID DIY rutin menyelenggarakan penganugerahan seperti ini. Tidak semua daerah lho mengadakan monev dan penganugerahan. KID DIY termasuk yang konsisten. Saya mengapresiasi. Semua ini tentu juga berkat kerja sama harmonis dan dukungan Pemda DIY. Bukan begitu Pak Wagub? Applaus untuk Pemda DIY dan KID DIY,’’ beber Henny panjang lebar.

Tak lupa Henny menyentil posisi DIY yang pada pemeringkatan nasional masih tercecer alias berada di luar 10 besar.  Padahal dulu pernah menembus 5 besar.  ‘’Ayo dong, tahun ini DIY harus bisa masuk (10 besar),’’ katanya memotivasi.  Kata-katanya ia ulang sekali lagi ketika berbincang usai penganugerahan.  ‘’Saya tahun lalu kan yang visitasi ke DIY, mudah-mudahan tahun ini ada peningkatan ya,’’ harapnya.

Menurut Hazwan, Tim Monev tahun ini diketuai oleh Komisioner Bidang Kelembagaan Martan Kiswoto.  Monev dilakukan selama kurang-lebih 5 bulan lamanya, dengan seluruh dinamika yang terjadi, terutama pada saat visitasi (berkunjung) ke Badan Publik yang menjadi nominator.  

‘’Perdebatan cukup argumentatif saat melakukan penilaian dalam pleno pemilihan dan penetapan Badan Publik terbaik berdasarkan fakta, data dan kenyataan lapangan atas pengelolaan informasi publik oleh Badan Publik,’’ katanya.

‘’Untuk kategori PPID Utama hanya diberikan apresiasi karena tidak semua PPID Utama mengembalikan kuesioner. Kategori parpol tidak dilanjutkan karena yang mengembalikan hanya 3 parpol (dari 10 parpol).  Kategori legislatif juga tidak dilanjutkan karena tidak ada yang mengembalikan,’’ lanjutnya.

Menjelang akhir acara tampil Gareng Rakasiwi yang cukup mampu mengocok perut pengunjung dengan stand up comedy-nya.  ‘’Jogja itu istimewa.  Lima kabupaten dan kotanya punya makanan khas masing-masing, semuanya berawalan huruf G,’’ kata Gareng mencairkan suasana.

Kulon Progo punya makanan khas berupa Geblek.  Gunungkidul punya Gathot.  Di Bantul tentu ada Geplak. Kota Jogja punya Gudheg. ‘’Ning yang paling hebat kuwi Sleman.  Punya Gunung Merapi,’’ katanya.   Gerrr, pengunjung pun tertawa. (*/az)

 

 


Event

14 Agt
Sosialisasi Keterbukaan Informasi Publik (KIP)
Sosialisasi Keterbukaan Informasi Publik pada: HANYA UNTUK PESERTA ...
14 Agt
Talkshow TV : Hari Hak Untuk Tahu (HHUT) 2018
Talkshow TV Menyambut Hari Hak Untuk Tahu (HHUT) 2018 pada: Hari/Tanggal Selasa, ...
13 Agt
Sosialisai Basis (Keterbukaan Informasi Publik di Desa)
KID DIY menyelenggarakan Sosialisasi Keterbukaan Informasi Publik di basis desa (Sosialisasi ...